Ekonomi
LPEM FEB UI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 5,28 Persen pada Kuartal III-2026
LPEM FEB UI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,28 persen (yoy) pada kuartal III-2026, sedikit melambat dari 5,29 persen pada kuartal II, dengan permintaan rumah tangga yang melemah dan ruang fiskal yang kian terbatas.
Foto: Forextime.com / Wikimedia Commons (CC BY 2.0) — ilustrasi konsep pasar keuangan, bukan gedung FEB UI.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,28 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III-2026. Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky menyampaikan estimasi itu, dengan rentang 5,25 hingga 5,30 persen, dalam laporan Indonesia Economic Outlook 2027 di Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Angka tersebut sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan kuartal II-2026 yang mencapai 5,29 persen, namun masih lebih tinggi dari kuartal III-2025 yang sebesar 5,04 persen. Proyeksi ini muncul menjelang pengumuman resmi pertumbuhan kuartal III oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang dijadwalkan pada Kamis (5/11/2026).
Dari sisi permintaan rumah tangga, LPEM FEB UI mencatat indikasi perlambatan. Rata-rata Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada kuartal III-2026 tercatat 117,8, turun 2,8 poin dibandingkan kuartal II-2026 sebesar 120,6 dan 7,2 poin dibandingkan kuartal I-2026 sebesar 125. Pelemahan terutama terlihat pada rumah tangga berpengeluaran rendah: rata-rata IKK kelompok pengeluaran Rp1 juta–Rp2 juta turun 4,7 poin menjadi 107,4, sedangkan kelompok Rp2,1 juta–Rp3 juta melemah 4,8 poin menjadi 111,1. Pertumbuhan kredit konsumsi pun melambat menjadi 5,22 persen pada kuartal III-2026, dari 5,92 persen pada kuartal sebelumnya.
Dari sisi fiskal, pendapatan negara pada kuartal III-2026 tumbuh 32,83 persen secara tahunan menjadi Rp882,1 triliun. Namun, peningkatan tersebut sebagian ditopang penerimaan tidak berulang, seperti surplus Bank Indonesia dan denda Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH), serta kenaikan harga komoditas. Sementara itu, belanja negara tumbuh 21,18 persen secara tahunan dengan realisasi Rp1.004,5 triliun, sehingga defisit fiskal pada kuartal III-2026 mencapai Rp122,5 triliun dan defisit kumulatif hingga September 2026 mencapai Rp319 triliun.
Di sisi lain, aktivitas ekonomi masih memperoleh dorongan dari belanja pemerintah dan investasi. Realisasi investasi pada kuartal III-2026 tercatat mencapai Rp528,7 triliun. Dari pasar keuangan, Indonesia mencatatkan arus masuk portofolio bersih sebesar US$0,81 miliar pada kuartal III-2026, yang ditopang pasar obligasi sebesar US$1,22 miliar, sementara pasar saham masih mencatatkan arus keluar bersih sebesar US$0,42 miliar. Rupiah sendiri masih mengalami tekanan, dengan depresiasi kumulatif sebesar 6,48 persen sepanjang 2026 hingga September.
Sumber: Investor.id
Baca Juga
- Anggaran Subsidi Energi Membengkak jadi Rp500 Triliun, Dipicu Harga Minyak — Ekonomi
- KSSK Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 jadi 5,4–5,5 Persen — Ekonomi
- IHSG Anjlok 3,78 Persen ke 4.904, Sentuh Level Terendah Sejak Oktober 2020 — Ekonomi
Redaksi Guyon Gayeng News