Kabar Terkini, Masa Depan Lebih Baik

Ekonomi

IHSG Anjlok 3,78 Persen ke 4.904, Sentuh Level Terendah Sejak Oktober 2020

Indeks Harga Saham Gabungan ditutup anjlok 192,5 poin (3,78 persen) ke level 4.904,2 pada Selasa (3/11/2026) setelah sempat menyentuh 4.895, level terendah sejak Oktober 2020, di tengah kekhawatiran penurunan klasifikasi MSCI dan aksi jual investor asing.

Ilustrasi konsep perdagangan di pasar keuangan

Foto: Forextime.com / Wikimedia Commons (CC BY 2.0) — ilustrasi konsep perdagangan di pasar keuangan, bukan Bursa Efek Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan Selasa (3/11/2026). Indeks ditutup anjlok 192,5 poin atau 3,78 persen ke level 4.904,2, setelah sempat terperosok hingga menyentuh 4.895 — titik terendah sejak Oktober 2020.

Dalam catatannya pada Selasa (3/11/2026), Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyebut kejatuhan IHSG dipicu sejumlah sentimen negatif: ancaman penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, evaluasi indeks MSCI November 2026, berlanjutnya aksi jual investor asing, hingga pelemahan nilai tukar rupiah.

Salah satu kekhawatiran utama investor adalah risiko Indonesia kehilangan status sebagai pasar berkembang (emerging market) dan turun menjadi pasar tersendiri (standalone market) dalam klasifikasi MSCI. Ancaman tersebut berkaitan dengan persoalan transparansi kepemilikan saham dan penegakan hukum di pasar modal domestik.

Selain risiko penurunan status, pelaku pasar juga mencermati evaluasi indeks MSCI pada November 2026, karena perubahan komposisi indeks berpotensi memengaruhi aliran investasi pada saham-saham konstituennya. Menurut Mirae, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) berpotensi turun ke kategori saham berkapitalisasi kecil (small cap), sedangkan saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menghadapi risiko dikeluarkan dari indeks MSCI.

Tekanan terhadap pasar saham juga datang dari pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini meningkatkan risiko investasi bagi pemodal asing, sekaligus mempersempit ruang Bank Indonesia (BI) untuk memangkas suku bunga.

Di sisi lain, arus keluar dana asing belum menunjukkan tanda mereda. Hingga 2 November 2026, investor asing telah mencatatkan penjualan bersih (net sell) sekitar Rp127 triliun di pasar reguler sejak awal tahun (year to date).

Mirae menilai pemulihan kepercayaan investor menjadi faktor penting bagi kebangkitan IHSG. Pelaku pasar menantikan langkah nyata reformasi, khususnya peningkatan transparansi kepemilikan saham, perluasan porsi saham beredar di publik (free float), serta penegakan hukum terhadap dugaan manipulasi pasar. Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih diwarnai volatilitas tinggi, dan pemulihannya membutuhkan stabilisasi nilai tukar rupiah, berkurangnya tekanan jual investor asing, serta kemajuan reformasi pasar modal.

Sumber: Investor.id

Baca Juga

Redaksi Guyon Gayeng News