Kabar Terkini, Masa Depan Lebih Baik

Ekonomi

KSSK: Stabilitas Sistem Keuangan RI Terjaga di Triwulan III-2026, Tekanan Global Mengintai

Komite Stabilitas Sistem Keuangan menyatakan stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga pada triwulan III-2026, namun tekanan meningkat sejak Oktober 2026 seiring eskalasi geopolitik, kenaikan harga energi, dan reklasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI.

Ilustrasi konsep perdagangan di pasar keuangan

Foto: Forextime.com / Wikimedia Commons (CC BY 2.0) — ilustrasi konsep pasar keuangan, bukan rapat KSSK.

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan stabilitas sistem keuangan Indonesia konsisten terjaga pada triwulan III-2026. Namun, tekanan kembali meningkat memasuki Oktober 2026 seiring eskalasi konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi global dan kebijakan moneter global yang cenderung ketat.

“Hasil asesmen KSSK menunjukkan bahwa stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan tetap terjaga baik selama triwulan III-2026 didukung oleh koordinasi dan sinergi kebijakan erat antar otoritas,” ujar Menteri Keuangan sekaligus Ketua KSSK Suahasil Nazara dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK IV Tahun 2026 di Gedung Thamrin, Bank Indonesia, Selasa (3/11/2026).

KSSK terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Komite ini menilai adanya tekanan terhadap perekonomian domestik karena pengetatan likuiditas. Salah satu faktornya adalah penilaian MSCI Inc. yang mereklasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market (Pasar Berkembang) menjadi Standalone Market (Pasar Mandiri).

“Pengumuman MSCI terkait kondisi pasar saham ini mewarnai kondisi ekonomi kita. Meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar juga menyebabkan terjadinya peningkatan arus modal keluar dari pasar saham,” kata Suahasil.

KSSK menyatakan akan terus mencermati dan melakukan asesmen yang bersifat forward looking terhadap perkembangan ekonomi dan sektor keuangan, serta terus berkoordinasi untuk menjaga kelangsungan kondisi pasar keuangan domestik di tengah gejolak perekonomian dunia. “Kami akan terus memperkuat kerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk mengantisipasi dampak rambatan risiko global,” tutur Suahasil.

Dari sisi global, prospek perekonomian masih tertekan seiring eskalasi konflik geopolitik. Tensi perang di Timur Tengah yang masih kuat mendorong harga minyak dan komoditas lainnya tetap tinggi. Kebijakan moneter global yang lebih ketat juga terjadi di sejumlah bank sentral: The Fed di Amerika Serikat, European Central Bank (ECB) di Eropa, dan Bank of Japan masing-masing menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2026.

“Kami perkirakan akan berlanjut pada jangka waktu ke depan sehingga kita memasuki periode higher for longer. Selain itu, imbal hasil US Treasury tetap tinggi sejalan dengan menguatnya ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter ke depan dan defisit anggaran pemerintah AS yang besar,” kata Suahasil.

Di pasar keuangan global, preferensi investor terhadap aset portofolio di negara berkembang masih relatif terbatas, sehingga indeks mata uang dolar AS tetap kuat terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang. Meski begitu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2026 diperkirakan tetap kuat di tengah tekanan global, ditopang permintaan domestik dan kinerja ekspor yang positif, sedangkan laju konsumsi rumah tangga didorong berlanjutnya berbagai stimulus fiskal pemerintah.

“APBN akan terus berfungsi sebagai shock absorber melalui subsidi, kompensasi, perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan berbagai program penciptaan lapangan kerja,” terang Suahasil.

Sumber: Investor.id

Baca Juga

Redaksi Guyon Gayeng News