Teknologi
Utang AI Perusahaan Teknologi AS Tekan Pasar Obligasi Eropa, Pasokan 2027 Diprediksi Melonjak
Perusahaan teknologi AS makin gencar meminjam dari investor Eropa untuk membiayai belanja AI, dengan Alphabet sudah dua kali menerbitkan obligasi euro tahun ini dan pasokan obligasi korporasi zona euro diprediksi melonjak pada 2027.
Foto: Forextime.com / Wikimedia Commons (CC BY 2.0) — ilustrasi konsep pasar keuangan, bukan kantor perusahaan teknologi.
Pasar obligasi Eropa menghadapi tekanan baru seiring perusahaan teknologi Amerika Serikat yang makin gencar meminjam dari investor Eropa untuk membiayai belanja kecerdasan buatan (AI). Banjir pasokan utang korporasi ini berpotensi mengerek biaya pinjaman bagi perusahaan lain maupun pemerintah.
Alphabet, induk Google, meluncurkan penjualan obligasi berdenominasi euro keduanya tahun ini pada Senin, setelah penerbitan senilai 9 miliar euro (sekitar US$10 miliar) pada Mei. Investor memperkirakan perusahaan besar teknologi lainnya — yang disebut hyperscaler — termasuk Meta, Amazon, dan Microsoft, akan meningkatkan pinjaman di luar AS seiring pendanaan investasi infrastruktur AI berskala besar.
“Eropa tertinggal dari AS dalam hal penerbitan di sektor teknologi, tetapi aktivitasnya makin cepat,” kata Marion Le Morhedec, kepala investasi pendapatan tetap di Fidelity International. Ia memperkirakan ada penerbitan senilai 40 miliar hingga 60 miliar euro yang sedang dalam antrean.
Menerbitkan utang dalam mata uang asing juga memungkinkan perusahaan melindungi risiko nilai tukar dari aset global mereka, sekaligus memanfaatkan biaya pinjaman yang relatif lebih rendah di pasar seperti Eropa. Pasar modal Eropa yang dalam memang menjadi sumber pendanaan yang menarik, tetapi pasokan yang lebih besar juga bisa menaikkan biaya pinjaman bagi perusahaan dan pemerintah Eropa yang sudah bergulat dengan kekhawatiran fiskal dan inflasi.
Skalanya masih timpang dengan AS: pasar AS telah menyerap lebih dari US$250 miliar penerbitan utang terkait teknologi sepanjang tahun ini, naik 81 persen dari periode yang sama tahun lalu. Di Eropa, totalnya US$39,3 miliar, naik sekitar 5 persen secara tahunan, menurut data LSEG. Kesenjangan itu pula yang membuat investor menilai masih ada ruang bagi gelombang penerbitan yang lebih besar di pasar euro, pound sterling, dan franc Swiss dalam beberapa bulan ke depan.
Kekhawatiran investor soal apakah investasi AI raksasa perusahaan teknologi besar akan menghasilkan imbal hasil cukup cepat telah memicu aksi jual yang menghapus lebih dari US$2 triliun nilai pasar indeks Nasdaq bulan lalu. Meski begitu, analis dan investor memperkirakan penerbitan obligasi akan tetap kuat.
BNP Paribas memperkirakan pasokan bersih obligasi korporasi investment-grade berdenominasi euro naik 83 persen menjadi 192 miliar euro (US$214 miliar) pada 2027, dari 105 miliar euro tahun ini. Penerbitan obligasi luar negeri oleh perusahaan AS — yang dijuluki “reverse Yankee” — diperkirakan menyumbang sekitar 80 miliar hingga 90 miliar euro dari total pasokan utang 2027, dengan hyperscaler menjadi penyumbang terbesar, kata Giulio Baratta, co-head global investment grade finance di BNP Paribas.
“Tidak dapat disangkal bahwa jika salah satu hyperscaler ini masuk ke pasar dengan kesepakatan bernilai miliaran dalam sehari, semua orang tahu dan semua orang harus memperhatikan,” kata Baratta, yang membantu mengatur penjualan obligasi euro Alphabet pada Mei.
Arus utang ini juga bisa memperlebar selisih imbal hasil (spread) kredit investment-grade, karena hyperscaler bersaing dengan peminjam berperingkat tinggi lainnya dari sektor utilitas, telekomunikasi, dan otomotif untuk memperebutkan dana investor. Spread swap aset pada indeks ICE BofA Euro Investment Grade melebar 11 basis poin bulan lalu, pertanda investor menuntut kompensasi lebih besar untuk memegang obligasi korporasi.
Tekanan itu bahkan sudah terasa di pasar obligasi pemerintah. Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde mengatakan pekan lalu bahwa penerbitan utang oleh hyperscaler telah berkontribusi pada naiknya imbal hasil obligasi pemerintah. Sejumlah perusahaan Eropa pun sudah merespons dengan memilih jatuh tempo yang lebih pendek: obligasi 10 tahun yang dulu normal kini digeser ke lima hingga tujuh tahun, menurut manajer portofolio Vontobel, Christian Hantel.
Sumber: Reuters
Baca Juga
- Harga Minyak Anjlok Lebih dari 7 Persen, Harapan Perundingan Iran–Qatar Redakan Kekhawatiran Pasokan — Ekonomi
- PMI Manufaktur Indonesia Melonjak ke 54,0 pada Oktober, Tertinggi dalam 31 Bulan — Ekonomi
- Ekspor RI Tembus US$221,23 Miliar Januari–September 2026, Naik 5,58 Persen — Ekonomi
Redaksi Guyon Gayeng News